Minggu, 28 November 2010

atheis

Tuhan...
aku sangat percaya Engkau ada.
Engkau tidak menjelma, tapi pertolongan-Mu selalu nyata.
ada saja cara Kau membuatku untuk tidak berpaling.

tapi sering imanku goyah.
aku seperti orang atheis.
kadang-kadang aku tak percaya takdir.
aku berontak, kenapa Kau menciptakan ku sedang aku selalu menderita.
aku berlari menjauh dari-Mu, menenangkan diri pada dunia.
aku tahu, aku salah.
aku tahu, aku tidak tahu apa-apa.
aku tahu, aku berarti tidak mengenal-Mu dengan baik.

Tuhan...
aku seperti garis hitam pada gambar pemandangan.
aku bukan warna yang diinginkan.
aku berbeda dengan mereka, orang di sekitarku.
aku malu, Tuhan...
aku merasa tidak adil saja.
aku tahu, aku berpikir seperti ini, dan aku salah.
aku salah.
sekali lagi,
aku salah!
tapi aku menyesali kelahiran diriku.
Tuhan...
ampuni aku,
akhir-akhir ini, aku seperti orang atheis.

apa aku sedang di uji oleh-Mu, Tuhan?
supaya aku selalu mengingat-Mu?
Kau ambil bapakku, Kau ambil Ibukku, Kau ambil semua jiwa dalam hidupku.
sesungguhnya, kau menyiksaku.
ampuni..
ampuni..
aku sedang merasa sangat sedih dan malu pada hidupku.

Tuhan,
aku shalat lima waktu,
dan aku tak mau Kau menjauhiku...

Tuhan...
aku yakin Kau selalu dekat.
memang terasa saat ini

Senin, 22 November 2010

ingin cepat berakhir

dia hanya tidak merasa,
jika aku terpesona.
dia hanya bersikap seadanya,
sedang aku memfantasikannya.
dia merasa biasa,
dan aku sangat mengagumi dia.
dia menghancurkan batas-batas realita,
dia...
aku sedang dimabuk asmara!
semoga cepat berakhir,
semoga...
semoga saja!

Selasa, 16 November 2010

Mati, Matilah !

lusuh tubuh
bergadang sepanjang gelap dan terang
sayu matanya, memerah dan hitam di kelopaknya
karena menggandeng waktu pada mesin pendorong hawa nafsu
gigi-gigi pasrah berkarat, ilir semilir bau bau tak risau hirau
mati.
ia tak tahu matahari menyepi di ufuk barat
ia tak tahu kapan fajar menyapa
ia tak tahu dimana angin punya mata
ah!
bahkan ia tak tahu matahari seperti apa.
ia juga tak pernah kenal kompas dunia.
ia, mati.
muka seperti penggorengan penuh minyak
atau tanah lapang dengan batu-batuan
bisa juga seperti tumpukan sampah di bantar gebang
tak punya rupa
bukan muka, mungkin
mati.
ia asik sendiri
dengan elektronik musyrik
tertawa-tawa pada dunia yang melebihi hal supranatural
mati merasa hidup!
badan daki semua
ramput kutu semua
bau pesing
bau segala rupa
mati.
merasa biasa saja
lama...
lama sudah.
mati pergi.
pada saat fajar masih dibelakang pintu timur
saat orang-orang terlelap dan bermimpi tentang kekasih mereka
ia keluar dan tak ada siapa-siapa
mati menganggap dunia mati.
mati.
kembali pada mesin nafsu
matahari tak pernah ingkar janji untuk bertemu
mati sudah kecewa bahkan sebelum fajar
matahari tak menunggu mati
sampai senja jumpa, mati tetap mati.
ia tersenyum sendiri di depan layar televisi.
mati.

fatamorgana

sesaat.
harap sesaat.
sesaat.
aku mengumpat sesaat.
sesaat saja.
aku melayang-layang.
cuma sesaat.
ya!
cuma sesaat.
gila...
bagaimana mungkin tiba-tiba aku melihat matahari di malam hari.
bintang berkerlap-kerlip pada terik siang bolong.
sesaat.
sesaat.
hempas nafas terhempas.
sesaat, aku sangat bahagia.
sesaat saja.
ku tahu ini sesaat.
aku.
kecewa.
lebih baik tak sesaat sekalipun.
sakit!

qurban

allahu akbar allahu akbar allahu akbar
laailaaha illalahu allahu akbar
allahu akbar
walilla hilham...

malam ini takbir kembali bergema.
besok sudah hari raya.
suka cita.

malam terasa anggun.
jiwa-jiwa menghangat.
mereka rela.

takbir itu masuk hatiku.
menangis saja.
aku ikhlas.
hidup itu sesama..
rela.
berkorban.

iman

pikiran.
hati.
langkah.
ridho-Nya.

Minggu, 14 November 2010

-

menyesal?
tidak.
kenapa?
kecewa.
pada?
diri dan penguasa.
lalu?
melamun lagi.
jadi?
cuma mimpi.
sia-siakah?
tidak.
terus?
gagal saja.
cukup?
jalan terlalu panjang.
masih beharap?
realistis dan optimis.
kemana kau akan pergi?
pada realita di jujung mimpi.
katanya realistis?
arti yang berbeda.
ah kau penghayal!
iya.
kau begitu saja?
ya!
lalu, apa rencanamu?
bermimpi lagi.
kau bodoh!
tidak.
lalu?
hanya optimis.
bohong!kau gila!
tidak. iya.
gila!
sedang.
kau tak tahu malu?!
pemalu saja.
kau sombong padahal kau tak tahu arah!
tidak. aku tahu arah kemana.
bohong!
tidak.
lalu?
Tuhan tahu aku.
.
.

gelisah

gelisah.
gelisah.
gelisah.
tetap ceria!

tersenyum saja,
dan hati terhimpit jerit,
tak kuasa...
tak bisa...

mata berkaca-kaca,
cukup sudah.
aku,
ah...
nafas terengah.
cukup sudah.
cukup.
cukuplah...

tak punya petunjuk waktu,
tak tahu kemana jarum mengarah,
mereka pertanda...
masa ke masa,
jika aku tiada.

berputar-putar dilangkah yang tidak berubah,
berlari pada realita di ujung mimpi,
oh...
celah nafas, lelah katanya!

ditemani koran dan angin cuaca dingin,
aku kembali lagi melamunkan,
tak percaya rasanya,
aku tiada,
aku tak berdaya,

kali ini..
pada mimpi di ujung realita.

13.15
alasyari unisba

malu

pandangan tajam,
hati teriris.
percaya dirilah,
sudah cukup.
aku hanya tersiksa.

Sabtu, 13 November 2010

sajak campuran. november 2010.

Minggu Pagi


Selamat datang, imeh!

Di waktu yang sepi.

Dimana tawa adalah duka.

Dan menangis jadi hiburan indah.

Bersenang-senanglah dengan segala kecewa,

habiskan akhirnya,

kau menyesal bukan?

Selamat...


Menumpang


Kenalkan aku pada para penguasanya,

aku akan cerita,

aku tidur dan cinta

aku merasa, disini nikmatnya bahagia,

jadi anjing tetangga,

tawa layak mereka,

pikir lebih dari mereka,

tetap saja aku hanya anjing tetangga.

Seberapa kencang gonggonganku,

takkan pernah terdengar oleh si penguasa.

Aku hanya...

terlalu cinta...

pada unisba.

Pada fikom.

Pada suara mahasiswa.

Pada jurnalistik.

Ya!cinta.

Menumpang saja...


Kampungan!


Katakanlah:

Puisi picisan itu kampungan.


Aku mencintainya,

Aku tergila-gila padanya,

Aku menginginkannya,


Rasa.

Itu cuma rasa.

Itu cuma lampiasan rasa.


Salah?


Katakanlah:

Aku kampungan.




Lelaki


Makhluk penuh fantasi.

Jadi imajinasi

ya.


Kalah


Lelah.

Lelah menghitungi langkah.

Tidak sia-sia,

hanya kecewa.

Maka aku menangis sejadi-jadinya!


Asa


beri aku ruang,

tinggali aku jiwa,

tak usah bicara,

cukup tersenyum dengan tulus...

aku sudah bisa menerima.

Tinggal asa...


Tolol


hanya karena anda,

saat ini saya tidak jadi diri saya.

Saya merasa malu dengan hidup saya.

Haruskah saya sempurna dimata anda?

Jelaskan...

jika anda tidak suka.

Tersiksa...


Mahasiswa


Apatis...

Tak punya malu.

Mereka.


Gelas Pecah


bagian kristal kecil itu akan melukaimu,

berhati-hatilah.

Pecahkan kalau kau ingin.



cermin toilet lantai dua: saksi bisu

belum juga senja.
langit pekat, udara lembab dan hati gelisah.
hanya sedikit rintik hujan dan segudang gundah
aku tertawa ceria, ku kerjakan saja apa yang ada.
sakit,
pedih,
kecewa,
bagai anak kehilangan ibunya,
bingung. bingung. bingung.
kemana tawaku selanjutnya?

aku berjalan saja diantara orang-orang yang punya rahasia,
mereka duduk dan menatapku seolah tak menginginkan keberadaanku.
sesak dadaku.
cukup!kupikir!
kalian hanya tak paham apa masalahku!
aku berlalu saja...
hati jerit sakit.

ruang itu sebuah toilet,
ruang yang kosong dan dingin.
dengan sebuah cermin yang besar!

cermin!
ya!
cermin.
ku lampiaskan saja,
tangis keluar.
ku maki sosok di cermin itu,
ku kasihani ia,
ku nasehati ia,
kemudian kami menangis bersama.
bagai pengemis kehilangan uang recehnya.
mengapa?
kenapa?
kami tak punya cita-cita!

mereka tak paham.
semua tak paham.
aku punya hal yang lebih berat dibandingkan putus dengan pacar.
aku punya hal yang lebih kompleks dibanding tugas-tugas kuliah.
aku punya hal yang sulit daripada bertengkar dengan orangtua!
aku ini...
aku.
ya!
aku...
hanya berharap secuil harap!
bisa jadi sarjana...

tak apa.
ikhlas saja.
kutunjuk-tunjuk orang di cermin itu.
tak begitu saja ikhlas..
aku begitu kecewa.
ternyata sampai disini saja.

sampai disini.
sampai senja tiba.
sampai akhirnya...
aku pergi dan melamunkan cita-cita.

mata memerah.
selamat tinggal cermin unisba...
sampai berjumpa ketika aku sudah dewasa.

berakhir...
tangis.
ceria.
tak peduli.

Jumat, 12 November 2010

Rasa

ngantuk!
ah...
lelah.
tidak!
aku hanya lapar!
atau...
ya!
aku kekenyangan!

tidurku pulas malam tadi.
aku juga makan banyak.
sesak.
padahal aku sesak.
setelah seharian mondar-mandir tanpa arah!
semua akan baik-baik saja, pikirku!

keesokan harinya...
aku gelisah,
melamun.
melamun saja.
berharap ada keajaiban.
ah!
mudah-mudahan hari ini waktu bertambah jadi seratus jam.
perutku mulas...
aku bertambah sesak.
dan meyakinkan diri lagi, jika semua akan baik-baik saja.

aku tak bisa berbuat apa-apa.
diam.
diam.
diam.
berjalan.
berjalan.
berjalan.
kosong...
hampa...
sesak lagi.
mimpi itu telah berakhir.

aku tersenyum dusta,
riang...
hatiku terasa sangat sakit.
alam bawah sadarku tersiksa.
aku ingin berteriak.
entah menyesal,
atau mengamini dan berterimakasih.

aku hanya manusia biasa,
tak tahu esok seperti apa.
aku hanya berpikir pesimis,

Tuhan...
maaf...
ijinkan aku merasa kecewa saat ini, sebagai manusia biasa.

mimpi itu belum tercoret.

Rabu, 10 November 2010

Kepada Tuhan dan Kedua Orangtuaku ...

Ibu...
aku rindu,
tapi aku malu,

Ayah...aku kesepian,
tapi aku pura-pura bertahan,

Ibu, Ayah...
mengapa Tuhan terlalu baik?
Ketika kalian sangat jauh dariku, bahkan menjauhiku...
Tuhan tak begitu, Ia terasa sangat dekat
lebih dekat daripada ijroil pada urat nadiku...
Tuhan nyata lebih dari kalian...

Ibu, Ayah...
walau Tuhan sangat dekat,
sesekali sebagaimanusia yang tidak pernah meminta untuk dilahirkan,
terkadang aku sangat membutuhkan kalian...
aku ingin memeluk kalian, menciumi pipi kalian,

Ibu...
disini aku makan enak,
kuharap kau lebih dari itu.
Ibu...
manusia kadang-kadang jahat padaku,
tapi aku tak pernah menangis akan itu,
aku lebih ceria lebih dari remaja yang suka pesta dan hura-hura.

Ayah...
disini aku hidup layak,
kuharap kau seperti aku juga,
Ayah...
disini aku dikelilingi orang hebat, aku ingin banyak belajar, kuharap kau bisa bangga...
Ayah...
aku jatuh cinta pada pria disini,
maaf...bukan yang seperti engkau,
aku mencintainya tapi dia tak mencintaiku...
walau begitu, walau patah hati...
tapi aku tetap tegar melebihi aspal jalanan...

Ibu, Ayah...
terimakasih telah memperkenalkanku pada Tuhan...
aku jadi percaya harapan walau Tuhan tak suka jika aku berandai-andai...
Terimakasih telah mendoakanku,
tampaknya Tuhan mendengar doa kalian...

Ibu, Ayah...
Tuhan itu romantis,
Dia mencintaiku walau aku sering lupa pada-Nya.

Senin, 01 November 2010

dia bak PANDU!

karena cinta adalah ketika kamu meneteskan airmata dan masih peduli tehadapnya. cinta itu ketika dia tidak memperdulikanmu dan kamu masih menunggunya.

ah....begitulah aku merasa. kamu adalah cinta, dan cinta itu seperti tadi. kamu tidak peduli dan aku masih menunggu. aku menangis, tapi tetap memperhatikanmu. cinta itu kamu dan kamu tidak peduli. cinta adalah tentang kecewa. cinta adalah tentang ikhlas. cinta adalah tentang memberi tanpa mendapat balasan. aku cinta kamu tanpa harus kamu cinta aku.
bak pandu...
tentang cinta, mimpi, harapan, ... ah, cuma cerita !