Ibu...
aku rindu,
tapi aku malu,
Ayah...aku kesepian,
tapi aku pura-pura bertahan,
Ibu, Ayah...
mengapa Tuhan terlalu baik?
Ketika kalian sangat jauh dariku, bahkan menjauhiku...
Tuhan tak begitu, Ia terasa sangat dekat
lebih dekat daripada ijroil pada urat nadiku...
Tuhan nyata lebih dari kalian...
Ibu, Ayah...
walau Tuhan sangat dekat,
sesekali sebagaimanusia yang tidak pernah meminta untuk dilahirkan,
terkadang aku sangat membutuhkan kalian...
aku ingin memeluk kalian, menciumi pipi kalian,
Ibu...
disini aku makan enak,
kuharap kau lebih dari itu.
Ibu...
manusia kadang-kadang jahat padaku,
tapi aku tak pernah menangis akan itu,
aku lebih ceria lebih dari remaja yang suka pesta dan hura-hura.
Ayah...
disini aku hidup layak,
kuharap kau seperti aku juga,
Ayah...
disini aku dikelilingi orang hebat, aku ingin banyak belajar, kuharap kau bisa bangga...
Ayah...
aku jatuh cinta pada pria disini,
maaf...bukan yang seperti engkau,
aku mencintainya tapi dia tak mencintaiku...
walau begitu, walau patah hati...
tapi aku tetap tegar melebihi aspal jalanan...
Ibu, Ayah...
terimakasih telah memperkenalkanku pada Tuhan...
aku jadi percaya harapan walau Tuhan tak suka jika aku berandai-andai...
Terimakasih telah mendoakanku,
tampaknya Tuhan mendengar doa kalian...
Ibu, Ayah...
Tuhan itu romantis,
Dia mencintaiku walau aku sering lupa pada-Nya.
kadang mimpi terlalu indah dan realita terasa begitu menyiksa. menjeritlah dengan kencang, menangislah sampai sesak, tertawa dan bergembiralah sesuka hati. nikmat bukan? inilah Ruang Imaji. Tempat dimana hanya Tuhan, hati, dan pikiranmu saja yang tahu.
Rabu, 10 November 2010
Senin, 01 November 2010
dia bak PANDU!
karena cinta adalah ketika kamu meneteskan airmata dan masih peduli tehadapnya. cinta itu ketika dia tidak memperdulikanmu dan kamu masih menunggunya.
ah....begitulah aku merasa. kamu adalah cinta, dan cinta itu seperti tadi. kamu tidak peduli dan aku masih menunggu. aku menangis, tapi tetap memperhatikanmu. cinta itu kamu dan kamu tidak peduli. cinta adalah tentang kecewa. cinta adalah tentang ikhlas. cinta adalah tentang memberi tanpa mendapat balasan. aku cinta kamu tanpa harus kamu cinta aku.
bak pandu...
ah....begitulah aku merasa. kamu adalah cinta, dan cinta itu seperti tadi. kamu tidak peduli dan aku masih menunggu. aku menangis, tapi tetap memperhatikanmu. cinta itu kamu dan kamu tidak peduli. cinta adalah tentang kecewa. cinta adalah tentang ikhlas. cinta adalah tentang memberi tanpa mendapat balasan. aku cinta kamu tanpa harus kamu cinta aku.
bak pandu...
Kamis, 28 Oktober 2010
Tentang Tugas Saya : Pers Era Soeharto
Menjadi mahasiswa Ilmu Jurnalistik, terpaksa harus kritis terhadap segala keadaan. Termasuk terhadap perkembangan Pers, yaiyalah...wong ini ranah pelajaran saya. hehe
Oke... Etika dan Hukum Media menjadi bagian dari ranah itu, dari mata kuliah ini, saya mendapat tugas untuk mengomentari Pers Bebas dan Bertanggung Jawab pada masa pemerintahan Soeharto.
Dan saya ingin membagi isi otak saya tentang kecilnya pengetahuan saya mengomentari hal tersebut.
Secara tertulis, Sistem Pers Bebas dan Bertanggung Jawab sangat bagus untuk diterapkan. Tapi pada pelaksanannya di era soeharto pada beberapa waktu silam, semua itu hanya tertulis dan formalitas saja.
Sepengetahuan saya, berdasarkan referensi dari internet dan setelah belajar dasar-dasar jurnalistik pada semester 2 kemarin, Pers Bebas dan Bertanggung Jawab merupakan sistem yang hadir untuk menantang sistem otoriter dan Libertarian. Dimana Pers harus diberi kebebasan tetapi tidak boleh sewenang-wenang. Pers harus bisa mempertanggungjawabkan kepada publik, kebenaran, hukum dan akal sehat.
Melihat arti tersebut, tentu saja saya sangat setuju dengan sistem pers bebas dan bertanggung jawab ini. Karena dengan sistem pers ini, semua pihak tidak dirugikan. Tidak hanya insan pers yang bisa bebas mengemukakan dan memberikan informasi seluas-luasnya, tetapi khalayak juga bisa memperoleh dari pemberitaan pers secara bebas tadi. Tentusaja bebas disini mempunyai arti, yaitu tidak sewenang-wenang memberitakan, melainkan memberikan informasi kepada publik secara terbuka melalui aturan tertentu dan bisa dipertanggungjawabkan.
Namun, pendapat saya berubah menjadi kontra, jika melihat sistem pers ini pada masa pemerintahan Soeharto. Bukan tanpa alasan, tentu saja anda semua lebih tahu, bagaimana kebebasan Pers di kekang dalam era orde baru ini. Tidak ada namanya Pers Bebas, justru brbanding terbalik, sangat otoriter. Pers yang bertanggung jawab disalah artikan, bukan bertanggungjawab kepada kebenaran, tetapi pada kekuasaan pemerintah.
Saya bisa memberika beberapa fakta, yang pertama adanya SIUPP (Surat Izin Penerbitan Pers), tentu saja dengan adanya SIUPP ini, hidup matinya pers ada ditangan pemerintah. Yang kedua, terjadi pembredelan pada harian Tempo, Detik, Editor, pada 21 Juni 1994. Juga adanya permintaan maaf secara bersamaan kepada Soeharto pada 26 Januari 1978 dari tujuh media cetak, yaitu Kompas, The Indonesia times, Pelita, Sinar Harapan, Merdeka, Sinar Pagi, dan Pos Sore. Hal ini menegaskan, jika pada era Soeharto, sistem pers memang otoriter.
Begitulah kenyataanya, apa yang tertulis tidak sesuia dengan pelaksanaanya. Namun, kita masih bisa berharap pada sistem pers sekarang. Memang, seiring era reformasi, era globalisasi serta banjirnya informasi, mau tidak mau pers jaman sekarang ini terlampau kebablasan dan seperti menganut sistem libertarian. Tapi kita semua bisa merubah itu, dengan sistem pers bebas dan bertanggung jawab yang ideal tadi. Yaitu, jika pemerintah, insan media dan masyarakat bertindak. pemerintah bisa memformulasikan kebijakan yang sesuai untuk kepentingan media. Sepatutnya media bisa profesional dengan kode etik dan kepentingan masyarakat. Serta kita sebagai masyarakat, bisa menyaring informasi yang baik serta bertindak jika ada informasi yang tidak benar.
Oke, sekian....
itulah pendapat saya tentang pers bebas dan bertanggung jawab era soeharto. Saya cuma orang yang baru mengenal dunia jurnalistik dan pengetahuan saya sangat kurang. Subjektif !
Rabu, 27 Oktober 2010
antara saya dan filsafat

saya sering bilang sama temen2 saya, kalo saya ga suka mata kuliah filsafat. dan sekarang, berawal dari ketidaksukaan itu, saya malah pengen tahu lebih jauh tentang filsafat.
Pertama kali saya mengenal filsafat ketika saya memasuki bangku kuliah di fikom unisba. Waktu itu, semester pertama, dan Pengantar Filsafat adalah mata kuliah wajib yang saya ambil. Sebutlah Mr. X adalah dosen saya. Mungkin, karena pengaruh dari cara mengajar dia, saya jadi ga suka banget sama filsafat. Buat saya, mengetahui dan belajar filsafat adalah membuang-buang waktu dan sangat membuat ngantuk. Filsafat pada intinya adalah berpikir, tidak sekedar berpikir biasa, tapi berpikir mendalam tentang sesuatu, itu yang saya tangkap ketika belajar matakuliah ini, dan sampai saat ini tentunya.*! heyy !!!! wtf gitu loh !!!! ngapain buang-buang waktu cuma belajar hal yang musingin kita !!. Tapi temen2 saya dari kelas lain, yang tidak di ajar Mr. X, kata mereka filsafat itu asik! apalagi mereka diwajibkan membaca novel Dunia Sophie. Saya mencoba membaca sinopsis novel itu, dengan alasan supaya saya bisa mengakrabkan dengan filsafat. Tapi, semua itu percuma, toh baru baca sinopsisnya, itu semua tidak membuat pandangan saya tentang filsafat baik.
Dalam mata kuliah ini juga, saya seperti dibodohi, saya belajar tentang hewan, bukan hewan biasa, tapi hewan berpikir. Katanya manusia itu hewan berpikir. Saya sangat tidak terima, walaupun bisa berpikir, tapi tetep aja kita disamain sama hewan, ini nih ada di buku Ilmu, Filsafat dan Agama karya Endang apaaa gitu, lupa lagi namanya. Tapi, mungkin pada saat itu saya kurang paham dengan bahasannya, jadi ya saya kurang mengerti dan selalu berpandangan buruk pada semua materi dalam filsafat. Dalam buku yang terpaksa saya baca itu (tugas harus merangkum), filsafat juga merupakan ilmu yang radikal, artinya berpikir sampai ke akar-akarnya, ini nih yang membuat saya semakin enek sama filsafat. Tapi, ada hal yang saya suka yaitu dicantumkannya juga ilmuan-ilmuan Muslim. Seperti Ibnu Syina dan Ibnu Khaldun.

Singkat cerita, saya sudah menginjak semester tiga. Alhamdulillah saya bisa ngambil 24 sks. Otomatis saya ngambil mata kuliah semster atas. Waktu perwalian, saya dipilihin sama dosen pengambilan ke atasnya, saya pkir, dosen lebih tahu kemampuan saya, sehiongga tidak mungkin salah pilih. Ternyata eh ternyata, dosen memilihkan mata kuliah yang saya tidak sukai tadi, yaitu terusan dari pengantar filsafat...mata kuliahnya adalah Filsafat Komunikasi. Dosen filkom saya adalah dosen yang mengajar Pengantar Filsafat teman saya, sebutlah Mrs. Y. Pada awalnya, saya sempat down ngeliat siapa yang mengajar saya, karena beliau itu dosen yang oke cara mengajarnya. Saya takut, karena saya sangat tidak mau belajar filsafat.
Tapiiiiii.......disini nih masa perubahan saya, deuh....perubahan...!!! Entah kenapa, saya jadi tertarik pada filsafat karena cara ngajar Mrs. Y ini bisa merubah pandangan saya. Dia menawarkan teori-teori yang sulit dipahami, tetapi dia bisa membuat saya ingin memahami. Dia mengenalkan tokoh-tokoh filosofis yang tak saya kenal, tetapi saya ingin berusaha mengenal. Dia bilang, jika filsafat itu adalah akar dari segala ilmu. Walaupun saya sngat tidak setuju dengan tokoh-tokoh filsafat Eropa itu.
Saya cukup tahu Karl Marx dengan sosialisnya, tapi saya tidak perlu mengikuti dia.

Saya benci Charles Darwin dengan teori konyolnya Evolusi dan Revolusinya.

Yang membuat saya ingin mengetahui lebih banyak tentang filsafat adalah, karena filsafat itu akar dari semua ilmu, dan saya ingin mengubah sejarah orang tentang filsafat, jika ternyata saya sebagai umat Muslim, harus bangga jika kita selalu mengemukakan pandangan yang ternyata realistis, saya ingin mencari tahu lagi tentang tokoh-tokoh Fouder dan Forerunner dar kalangan cendekiawan Muslim. Kita jangan mengacu terus kepada Aristoteles, Sokrates, dan kawan-kawannya. Tapi kita harus menilai dari segi agama kita, karena filsafatkan akar segala ilmu, jadi peran agama dan cendekiawan kita dalam meluruskan masalah ini harus kita cari tahu bersama.
Maka dari itu, saya ingin belajar filsafat, karena saya ingin menggantikan sokrates, aristoteles, darwin, marx dengan para cendekiawan muslim. Seperti halnya juga yang dilakukan Harun Yahya.
Ya, begitulah kegejean saya menulis, dan begitulah hubungan saya dengan filsafat.Ditulis dalam keadaan lelah.
Minggu, 24 Oktober 2010
mimpi masa kecil

ya allah, akhirnya kesampean juga deh saya nonton persib di stadion secara langsung. keren banget lah, ini tuh mimpi saya waktu kecil banget. Dulu, cuma bisa nonton persib lewat TV, tapi pas hari sabtu kemaren, pas persib lawan psm, saya ngeliat langsung di stadion, di VIP pula, dan bareng wartawan senior.. hehe
terimakasihlah buat dosen penulisan media, bapak doddy, yang udah ngajak saya dan temen yang lainnya liputan persib, dapet pengalaman yang keren, foto bareng pemain, liputan asyik bareng wartawan senior, dan.... ga bisa diceritain deh, seneng.....
ini tuh beda sama liputan2 saya yang lain, biasanya kan saya cuma liputan event aja gitu, paling liat suasana, wawancara panitia, wawancara pengunjung... gitu lah, tapi pas liputan persib mah asli, beda banget, disamping saya bobotoh yang pengen menikmati permainan persib, tapi saya juga harus bener2 merhatiin permainan mereka, ah... asyik lah,,,,
udah gitu, ada acara konferensi pers sama pelatih, yang hey... ngomongnya dong, pake bahasa inggris, tapi... lumayan lah, saya sedikit2 ngerti.... dan saya juga wawancara salah satu pemain persib, yaitu erlangga.. hhihihi...
asik pokoknya, pengen lagi..... tapi yang liputan persib aja.. hheu...

Langganan:
Postingan (Atom)
tentang cinta, mimpi, harapan, ... ah, cuma cerita !


