Minggu, 14 November 2010

Sabtu, 13 November 2010

sajak campuran. november 2010.

Minggu Pagi


Selamat datang, imeh!

Di waktu yang sepi.

Dimana tawa adalah duka.

Dan menangis jadi hiburan indah.

Bersenang-senanglah dengan segala kecewa,

habiskan akhirnya,

kau menyesal bukan?

Selamat...


Menumpang


Kenalkan aku pada para penguasanya,

aku akan cerita,

aku tidur dan cinta

aku merasa, disini nikmatnya bahagia,

jadi anjing tetangga,

tawa layak mereka,

pikir lebih dari mereka,

tetap saja aku hanya anjing tetangga.

Seberapa kencang gonggonganku,

takkan pernah terdengar oleh si penguasa.

Aku hanya...

terlalu cinta...

pada unisba.

Pada fikom.

Pada suara mahasiswa.

Pada jurnalistik.

Ya!cinta.

Menumpang saja...


Kampungan!


Katakanlah:

Puisi picisan itu kampungan.


Aku mencintainya,

Aku tergila-gila padanya,

Aku menginginkannya,


Rasa.

Itu cuma rasa.

Itu cuma lampiasan rasa.


Salah?


Katakanlah:

Aku kampungan.




Lelaki


Makhluk penuh fantasi.

Jadi imajinasi

ya.


Kalah


Lelah.

Lelah menghitungi langkah.

Tidak sia-sia,

hanya kecewa.

Maka aku menangis sejadi-jadinya!


Asa


beri aku ruang,

tinggali aku jiwa,

tak usah bicara,

cukup tersenyum dengan tulus...

aku sudah bisa menerima.

Tinggal asa...


Tolol


hanya karena anda,

saat ini saya tidak jadi diri saya.

Saya merasa malu dengan hidup saya.

Haruskah saya sempurna dimata anda?

Jelaskan...

jika anda tidak suka.

Tersiksa...


Mahasiswa


Apatis...

Tak punya malu.

Mereka.


Gelas Pecah


bagian kristal kecil itu akan melukaimu,

berhati-hatilah.

Pecahkan kalau kau ingin.



cermin toilet lantai dua: saksi bisu

belum juga senja.
langit pekat, udara lembab dan hati gelisah.
hanya sedikit rintik hujan dan segudang gundah
aku tertawa ceria, ku kerjakan saja apa yang ada.
sakit,
pedih,
kecewa,
bagai anak kehilangan ibunya,
bingung. bingung. bingung.
kemana tawaku selanjutnya?

aku berjalan saja diantara orang-orang yang punya rahasia,
mereka duduk dan menatapku seolah tak menginginkan keberadaanku.
sesak dadaku.
cukup!kupikir!
kalian hanya tak paham apa masalahku!
aku berlalu saja...
hati jerit sakit.

ruang itu sebuah toilet,
ruang yang kosong dan dingin.
dengan sebuah cermin yang besar!

cermin!
ya!
cermin.
ku lampiaskan saja,
tangis keluar.
ku maki sosok di cermin itu,
ku kasihani ia,
ku nasehati ia,
kemudian kami menangis bersama.
bagai pengemis kehilangan uang recehnya.
mengapa?
kenapa?
kami tak punya cita-cita!

mereka tak paham.
semua tak paham.
aku punya hal yang lebih berat dibandingkan putus dengan pacar.
aku punya hal yang lebih kompleks dibanding tugas-tugas kuliah.
aku punya hal yang sulit daripada bertengkar dengan orangtua!
aku ini...
aku.
ya!
aku...
hanya berharap secuil harap!
bisa jadi sarjana...

tak apa.
ikhlas saja.
kutunjuk-tunjuk orang di cermin itu.
tak begitu saja ikhlas..
aku begitu kecewa.
ternyata sampai disini saja.

sampai disini.
sampai senja tiba.
sampai akhirnya...
aku pergi dan melamunkan cita-cita.

mata memerah.
selamat tinggal cermin unisba...
sampai berjumpa ketika aku sudah dewasa.

berakhir...
tangis.
ceria.
tak peduli.

Jumat, 12 November 2010

Rasa

ngantuk!
ah...
lelah.
tidak!
aku hanya lapar!
atau...
ya!
aku kekenyangan!

tidurku pulas malam tadi.
aku juga makan banyak.
sesak.
padahal aku sesak.
setelah seharian mondar-mandir tanpa arah!
semua akan baik-baik saja, pikirku!

keesokan harinya...
aku gelisah,
melamun.
melamun saja.
berharap ada keajaiban.
ah!
mudah-mudahan hari ini waktu bertambah jadi seratus jam.
perutku mulas...
aku bertambah sesak.
dan meyakinkan diri lagi, jika semua akan baik-baik saja.

aku tak bisa berbuat apa-apa.
diam.
diam.
diam.
berjalan.
berjalan.
berjalan.
kosong...
hampa...
sesak lagi.
mimpi itu telah berakhir.

aku tersenyum dusta,
riang...
hatiku terasa sangat sakit.
alam bawah sadarku tersiksa.
aku ingin berteriak.
entah menyesal,
atau mengamini dan berterimakasih.

aku hanya manusia biasa,
tak tahu esok seperti apa.
aku hanya berpikir pesimis,

Tuhan...
maaf...
ijinkan aku merasa kecewa saat ini, sebagai manusia biasa.

mimpi itu belum tercoret.

Rabu, 10 November 2010

Kepada Tuhan dan Kedua Orangtuaku ...

Ibu...
aku rindu,
tapi aku malu,

Ayah...aku kesepian,
tapi aku pura-pura bertahan,

Ibu, Ayah...
mengapa Tuhan terlalu baik?
Ketika kalian sangat jauh dariku, bahkan menjauhiku...
Tuhan tak begitu, Ia terasa sangat dekat
lebih dekat daripada ijroil pada urat nadiku...
Tuhan nyata lebih dari kalian...

Ibu, Ayah...
walau Tuhan sangat dekat,
sesekali sebagaimanusia yang tidak pernah meminta untuk dilahirkan,
terkadang aku sangat membutuhkan kalian...
aku ingin memeluk kalian, menciumi pipi kalian,

Ibu...
disini aku makan enak,
kuharap kau lebih dari itu.
Ibu...
manusia kadang-kadang jahat padaku,
tapi aku tak pernah menangis akan itu,
aku lebih ceria lebih dari remaja yang suka pesta dan hura-hura.

Ayah...
disini aku hidup layak,
kuharap kau seperti aku juga,
Ayah...
disini aku dikelilingi orang hebat, aku ingin banyak belajar, kuharap kau bisa bangga...
Ayah...
aku jatuh cinta pada pria disini,
maaf...bukan yang seperti engkau,
aku mencintainya tapi dia tak mencintaiku...
walau begitu, walau patah hati...
tapi aku tetap tegar melebihi aspal jalanan...

Ibu, Ayah...
terimakasih telah memperkenalkanku pada Tuhan...
aku jadi percaya harapan walau Tuhan tak suka jika aku berandai-andai...
Terimakasih telah mendoakanku,
tampaknya Tuhan mendengar doa kalian...

Ibu, Ayah...
Tuhan itu romantis,
Dia mencintaiku walau aku sering lupa pada-Nya.

Senin, 01 November 2010

dia bak PANDU!

karena cinta adalah ketika kamu meneteskan airmata dan masih peduli tehadapnya. cinta itu ketika dia tidak memperdulikanmu dan kamu masih menunggunya.

ah....begitulah aku merasa. kamu adalah cinta, dan cinta itu seperti tadi. kamu tidak peduli dan aku masih menunggu. aku menangis, tapi tetap memperhatikanmu. cinta itu kamu dan kamu tidak peduli. cinta adalah tentang kecewa. cinta adalah tentang ikhlas. cinta adalah tentang memberi tanpa mendapat balasan. aku cinta kamu tanpa harus kamu cinta aku.
bak pandu...

Kamis, 28 Oktober 2010

Tentang Tugas Saya : Pers Era Soeharto

Menjadi mahasiswa Ilmu Jurnalistik, terpaksa harus kritis terhadap segala keadaan. Termasuk terhadap perkembangan Pers, yaiyalah...wong ini ranah pelajaran saya. hehe
Oke... Etika dan Hukum Media menjadi bagian dari ranah itu, dari mata kuliah ini, saya mendapat tugas untuk mengomentari Pers Bebas dan Bertanggung Jawab pada masa pemerintahan Soeharto.
Dan saya ingin membagi isi otak saya tentang kecilnya pengetahuan saya mengomentari hal tersebut.
Secara tertulis, Sistem Pers Bebas dan Bertanggung Jawab sangat bagus untuk diterapkan. Tapi pada pelaksanannya di era soeharto pada beberapa waktu silam, semua itu hanya tertulis dan formalitas saja.
Sepengetahuan saya, berdasarkan referensi dari internet dan setelah belajar dasar-dasar jurnalistik pada semester 2 kemarin, Pers Bebas dan Bertanggung Jawab merupakan sistem yang hadir untuk menantang sistem otoriter dan Libertarian. Dimana Pers harus diberi kebebasan tetapi tidak boleh sewenang-wenang. Pers harus bisa mempertanggungjawabkan kepada publik, kebenaran, hukum dan akal sehat.
Melihat arti tersebut, tentu saja saya sangat setuju dengan sistem pers bebas dan bertanggung jawab ini. Karena dengan sistem pers ini, semua pihak tidak dirugikan. Tidak hanya insan pers yang bisa bebas mengemukakan dan memberikan informasi seluas-luasnya, tetapi khalayak juga bisa memperoleh dari pemberitaan pers secara bebas tadi. Tentusaja bebas disini mempunyai arti, yaitu tidak sewenang-wenang memberitakan, melainkan memberikan informasi kepada publik secara terbuka melalui aturan tertentu dan bisa dipertanggungjawabkan.
Namun, pendapat saya berubah menjadi kontra, jika melihat sistem pers ini pada masa pemerintahan Soeharto. Bukan tanpa alasan, tentu saja anda semua lebih tahu, bagaimana kebebasan Pers di kekang dalam era orde baru ini. Tidak ada namanya Pers Bebas, justru brbanding terbalik, sangat otoriter. Pers yang bertanggung jawab disalah artikan, bukan bertanggungjawab kepada kebenaran, tetapi pada kekuasaan pemerintah.
Saya bisa memberika beberapa fakta, yang pertama adanya SIUPP (Surat Izin Penerbitan Pers), tentu saja dengan adanya SIUPP ini, hidup matinya pers ada ditangan pemerintah. Yang kedua, terjadi pembredelan pada harian Tempo, Detik, Editor, pada 21 Juni 1994. Juga adanya permintaan maaf secara bersamaan kepada Soeharto pada 26 Januari 1978 dari tujuh media cetak, yaitu Kompas, The Indonesia times, Pelita, Sinar Harapan, Merdeka, Sinar Pagi, dan Pos Sore. Hal ini menegaskan, jika pada era Soeharto, sistem pers memang otoriter.
Begitulah kenyataanya, apa yang tertulis tidak sesuia dengan pelaksanaanya. Namun, kita masih bisa berharap pada sistem pers sekarang. Memang, seiring era reformasi, era globalisasi serta banjirnya informasi, mau tidak mau pers jaman sekarang ini terlampau kebablasan dan seperti menganut sistem libertarian. Tapi kita semua bisa merubah itu, dengan sistem pers bebas dan bertanggung jawab yang ideal tadi. Yaitu, jika pemerintah, insan media dan masyarakat bertindak. pemerintah bisa memformulasikan kebijakan yang sesuai untuk kepentingan media. Sepatutnya media bisa profesional dengan kode etik dan kepentingan masyarakat. Serta kita sebagai masyarakat, bisa menyaring informasi yang baik serta bertindak jika ada informasi yang tidak benar.

Oke, sekian....
itulah pendapat saya tentang pers bebas dan bertanggung jawab era soeharto. Saya cuma orang yang baru mengenal dunia jurnalistik dan pengetahuan saya sangat kurang. Subjektif !
tentang cinta, mimpi, harapan, ... ah, cuma cerita !