kadang mimpi terlalu indah dan realita terasa begitu menyiksa. menjeritlah dengan kencang, menangislah sampai sesak, tertawa dan bergembiralah sesuka hati. nikmat bukan? inilah Ruang Imaji. Tempat dimana hanya Tuhan, hati, dan pikiranmu saja yang tahu.
Minggu, 14 November 2010
-
tidak.
kenapa?
kecewa.
pada?
diri dan penguasa.
lalu?
melamun lagi.
jadi?
cuma mimpi.
sia-siakah?
tidak.
terus?
gagal saja.
cukup?
jalan terlalu panjang.
masih beharap?
realistis dan optimis.
kemana kau akan pergi?
pada realita di jujung mimpi.
katanya realistis?
arti yang berbeda.
ah kau penghayal!
iya.
kau begitu saja?
ya!
lalu, apa rencanamu?
bermimpi lagi.
kau bodoh!
tidak.
lalu?
hanya optimis.
bohong!kau gila!
tidak. iya.
gila!
sedang.
kau tak tahu malu?!
pemalu saja.
kau sombong padahal kau tak tahu arah!
tidak. aku tahu arah kemana.
bohong!
tidak.
lalu?
Tuhan tahu aku.
.
.
gelisah
gelisah.
gelisah.
tetap ceria!
tersenyum saja,
dan hati terhimpit jerit,
tak kuasa...
tak bisa...
mata berkaca-kaca,
cukup sudah.
aku,
ah...
nafas terengah.
cukup sudah.
cukup.
cukuplah...
tak punya petunjuk waktu,
tak tahu kemana jarum mengarah,
mereka pertanda...
masa ke masa,
jika aku tiada.
berputar-putar dilangkah yang tidak berubah,
berlari pada realita di ujung mimpi,
oh...
celah nafas, lelah katanya!
ditemani koran dan angin cuaca dingin,
aku kembali lagi melamunkan,
tak percaya rasanya,
aku tiada,
aku tak berdaya,
kali ini..
pada mimpi di ujung realita.
alasyari unisba
Sabtu, 13 November 2010
sajak campuran. november 2010.
Minggu Pagi
Selamat datang, imeh!
Di waktu yang sepi.
Dimana tawa adalah duka.
Dan menangis jadi hiburan indah.
Bersenang-senanglah dengan segala kecewa,
habiskan akhirnya,
kau menyesal bukan?
Selamat...
Menumpang
Kenalkan aku pada para penguasanya,
aku akan cerita,
aku tidur dan cinta
aku merasa, disini nikmatnya bahagia,
jadi anjing tetangga,
tawa layak mereka,
pikir lebih dari mereka,
tetap saja aku hanya anjing tetangga.
Seberapa kencang gonggonganku,
takkan pernah terdengar oleh si penguasa.
Aku hanya...
terlalu cinta...
pada unisba.
Pada fikom.
Pada suara mahasiswa.
Pada jurnalistik.
Ya!cinta.
Menumpang saja...
Kampungan!
Katakanlah:
Puisi picisan itu kampungan.
Aku mencintainya,
Aku tergila-gila padanya,
Aku menginginkannya,
Rasa.
Itu cuma rasa.
Itu cuma lampiasan rasa.
Salah?
Katakanlah:
Aku kampungan.
Lelaki
Makhluk penuh fantasi.
Jadi imajinasi
ya.
Kalah
Lelah.
Lelah menghitungi langkah.
Tidak sia-sia,
hanya kecewa.
Maka aku menangis sejadi-jadinya!
Asa
beri aku ruang,
tinggali aku jiwa,
tak usah bicara,
cukup tersenyum dengan tulus...
aku sudah bisa menerima.
Tinggal asa...
Tolol
hanya karena anda,
saat ini saya tidak jadi diri saya.
Saya merasa malu dengan hidup saya.
Haruskah saya sempurna dimata anda?
Jelaskan...
jika anda tidak suka.
Tersiksa...
Mahasiswa
Apatis...
Tak punya malu.
Mereka.
Gelas Pecah
bagian kristal kecil itu akan melukaimu,
berhati-hatilah.
Pecahkan kalau kau ingin.
cermin toilet lantai dua: saksi bisu
langit pekat, udara lembab dan hati gelisah.
hanya sedikit rintik hujan dan segudang gundah
aku tertawa ceria, ku kerjakan saja apa yang ada.
sakit,
pedih,
kecewa,
bagai anak kehilangan ibunya,
bingung. bingung. bingung.
kemana tawaku selanjutnya?
aku berjalan saja diantara orang-orang yang punya rahasia,
mereka duduk dan menatapku seolah tak menginginkan keberadaanku.
sesak dadaku.
cukup!kupikir!
kalian hanya tak paham apa masalahku!
aku berlalu saja...
hati jerit sakit.
ruang itu sebuah toilet,
ruang yang kosong dan dingin.
dengan sebuah cermin yang besar!
cermin!
ya!
cermin.
ku lampiaskan saja,
tangis keluar.
ku maki sosok di cermin itu,
ku kasihani ia,
ku nasehati ia,
kemudian kami menangis bersama.
bagai pengemis kehilangan uang recehnya.
mengapa?
kenapa?
kami tak punya cita-cita!
mereka tak paham.
semua tak paham.
aku punya hal yang lebih berat dibandingkan putus dengan pacar.
aku punya hal yang lebih kompleks dibanding tugas-tugas kuliah.
aku punya hal yang sulit daripada bertengkar dengan orangtua!
aku ini...
aku.
ya!
aku...
hanya berharap secuil harap!
bisa jadi sarjana...
tak apa.
ikhlas saja.
kutunjuk-tunjuk orang di cermin itu.
tak begitu saja ikhlas..
aku begitu kecewa.
ternyata sampai disini saja.
sampai disini.
sampai senja tiba.
sampai akhirnya...
aku pergi dan melamunkan cita-cita.
mata memerah.
selamat tinggal cermin unisba...
sampai berjumpa ketika aku sudah dewasa.
berakhir...
tangis.
ceria.
tak peduli.
Jumat, 12 November 2010
Rasa
ah...
lelah.
tidak!
aku hanya lapar!
atau...
ya!
aku kekenyangan!
tidurku pulas malam tadi.
aku juga makan banyak.
sesak.
padahal aku sesak.
setelah seharian mondar-mandir tanpa arah!
semua akan baik-baik saja, pikirku!
keesokan harinya...
aku gelisah,
melamun.
melamun saja.
berharap ada keajaiban.
ah!
mudah-mudahan hari ini waktu bertambah jadi seratus jam.
perutku mulas...
aku bertambah sesak.
dan meyakinkan diri lagi, jika semua akan baik-baik saja.
aku tak bisa berbuat apa-apa.
diam.
diam.
diam.
berjalan.
berjalan.
berjalan.
kosong...
hampa...
sesak lagi.
mimpi itu telah berakhir.
aku tersenyum dusta,
riang...
hatiku terasa sangat sakit.
alam bawah sadarku tersiksa.
aku ingin berteriak.
entah menyesal,
atau mengamini dan berterimakasih.
aku hanya manusia biasa,
tak tahu esok seperti apa.
aku hanya berpikir pesimis,
Tuhan...
maaf...
ijinkan aku merasa kecewa saat ini, sebagai manusia biasa.
mimpi itu belum tercoret.
Rabu, 10 November 2010
Kepada Tuhan dan Kedua Orangtuaku ...
aku rindu,
tapi aku malu,
Ayah...aku kesepian,
tapi aku pura-pura bertahan,
Ibu, Ayah...
mengapa Tuhan terlalu baik?
Ketika kalian sangat jauh dariku, bahkan menjauhiku...
Tuhan tak begitu, Ia terasa sangat dekat
lebih dekat daripada ijroil pada urat nadiku...
Tuhan nyata lebih dari kalian...
Ibu, Ayah...
walau Tuhan sangat dekat,
sesekali sebagaimanusia yang tidak pernah meminta untuk dilahirkan,
terkadang aku sangat membutuhkan kalian...
aku ingin memeluk kalian, menciumi pipi kalian,
Ibu...
disini aku makan enak,
kuharap kau lebih dari itu.
Ibu...
manusia kadang-kadang jahat padaku,
tapi aku tak pernah menangis akan itu,
aku lebih ceria lebih dari remaja yang suka pesta dan hura-hura.
Ayah...
disini aku hidup layak,
kuharap kau seperti aku juga,
Ayah...
disini aku dikelilingi orang hebat, aku ingin banyak belajar, kuharap kau bisa bangga...
Ayah...
aku jatuh cinta pada pria disini,
maaf...bukan yang seperti engkau,
aku mencintainya tapi dia tak mencintaiku...
walau begitu, walau patah hati...
tapi aku tetap tegar melebihi aspal jalanan...
Ibu, Ayah...
terimakasih telah memperkenalkanku pada Tuhan...
aku jadi percaya harapan walau Tuhan tak suka jika aku berandai-andai...
Terimakasih telah mendoakanku,
tampaknya Tuhan mendengar doa kalian...
Ibu, Ayah...
Tuhan itu romantis,
Dia mencintaiku walau aku sering lupa pada-Nya.