Tuhan...
aku sangat percaya Engkau ada.
Engkau tidak menjelma, tapi pertolongan-Mu selalu nyata.
ada saja cara Kau membuatku untuk tidak berpaling.
tapi sering imanku goyah.
aku seperti orang atheis.
kadang-kadang aku tak percaya takdir.
aku berontak, kenapa Kau menciptakan ku sedang aku selalu menderita.
aku berlari menjauh dari-Mu, menenangkan diri pada dunia.
aku tahu, aku salah.
aku tahu, aku tidak tahu apa-apa.
aku tahu, aku berarti tidak mengenal-Mu dengan baik.
Tuhan...
aku seperti garis hitam pada gambar pemandangan.
aku bukan warna yang diinginkan.
aku berbeda dengan mereka, orang di sekitarku.
aku malu, Tuhan...
aku merasa tidak adil saja.
aku tahu, aku berpikir seperti ini, dan aku salah.
aku salah.
sekali lagi,
aku salah!
tapi aku menyesali kelahiran diriku.
Tuhan...
ampuni aku,
akhir-akhir ini, aku seperti orang atheis.
apa aku sedang di uji oleh-Mu, Tuhan?
supaya aku selalu mengingat-Mu?
Kau ambil bapakku, Kau ambil Ibukku, Kau ambil semua jiwa dalam hidupku.
sesungguhnya, kau menyiksaku.
ampuni..
ampuni..
aku sedang merasa sangat sedih dan malu pada hidupku.
Tuhan,
aku shalat lima waktu,
dan aku tak mau Kau menjauhiku...
Tuhan...
aku yakin Kau selalu dekat.
memang terasa saat ini
kadang mimpi terlalu indah dan realita terasa begitu menyiksa. menjeritlah dengan kencang, menangislah sampai sesak, tertawa dan bergembiralah sesuka hati. nikmat bukan? inilah Ruang Imaji. Tempat dimana hanya Tuhan, hati, dan pikiranmu saja yang tahu.
Minggu, 28 November 2010
Senin, 22 November 2010
ingin cepat berakhir
dia hanya tidak merasa,
jika aku terpesona.
dia hanya bersikap seadanya,
sedang aku memfantasikannya.
dia merasa biasa,
dan aku sangat mengagumi dia.
dia menghancurkan batas-batas realita,
dia...
aku sedang dimabuk asmara!
semoga cepat berakhir,
semoga...
semoga saja!
jika aku terpesona.
dia hanya bersikap seadanya,
sedang aku memfantasikannya.
dia merasa biasa,
dan aku sangat mengagumi dia.
dia menghancurkan batas-batas realita,
dia...
aku sedang dimabuk asmara!
semoga cepat berakhir,
semoga...
semoga saja!
Selasa, 16 November 2010
Mati, Matilah !
lusuh tubuh
bergadang sepanjang gelap dan terang
sayu matanya, memerah dan hitam di kelopaknya
karena menggandeng waktu pada mesin pendorong hawa nafsu
gigi-gigi pasrah berkarat, ilir semilir bau bau tak risau hirau
mati.
ia tak tahu matahari menyepi di ufuk barat
ia tak tahu kapan fajar menyapa
ia tak tahu dimana angin punya mata
ah!
bahkan ia tak tahu matahari seperti apa.
ia juga tak pernah kenal kompas dunia.
ia, mati.
muka seperti penggorengan penuh minyak
atau tanah lapang dengan batu-batuan
bisa juga seperti tumpukan sampah di bantar gebang
tak punya rupa
bukan muka, mungkin
mati.
ia asik sendiri
dengan elektronik musyrik
tertawa-tawa pada dunia yang melebihi hal supranatural
mati merasa hidup!
badan daki semua
ramput kutu semua
bau pesing
bau segala rupa
mati.
merasa biasa saja
lama...
lama sudah.
mati pergi.
pada saat fajar masih dibelakang pintu timur
saat orang-orang terlelap dan bermimpi tentang kekasih mereka
ia keluar dan tak ada siapa-siapa
mati menganggap dunia mati.
mati.
kembali pada mesin nafsu
matahari tak pernah ingkar janji untuk bertemu
mati sudah kecewa bahkan sebelum fajar
matahari tak menunggu mati
sampai senja jumpa, mati tetap mati.
ia tersenyum sendiri di depan layar televisi.
mati.
bergadang sepanjang gelap dan terang
sayu matanya, memerah dan hitam di kelopaknya
karena menggandeng waktu pada mesin pendorong hawa nafsu
gigi-gigi pasrah berkarat, ilir semilir bau bau tak risau hirau
mati.
ia tak tahu matahari menyepi di ufuk barat
ia tak tahu kapan fajar menyapa
ia tak tahu dimana angin punya mata
ah!
bahkan ia tak tahu matahari seperti apa.
ia juga tak pernah kenal kompas dunia.
ia, mati.
muka seperti penggorengan penuh minyak
atau tanah lapang dengan batu-batuan
bisa juga seperti tumpukan sampah di bantar gebang
tak punya rupa
bukan muka, mungkin
mati.
ia asik sendiri
dengan elektronik musyrik
tertawa-tawa pada dunia yang melebihi hal supranatural
mati merasa hidup!
badan daki semua
ramput kutu semua
bau pesing
bau segala rupa
mati.
merasa biasa saja
lama...
lama sudah.
mati pergi.
pada saat fajar masih dibelakang pintu timur
saat orang-orang terlelap dan bermimpi tentang kekasih mereka
ia keluar dan tak ada siapa-siapa
mati menganggap dunia mati.
mati.
kembali pada mesin nafsu
matahari tak pernah ingkar janji untuk bertemu
mati sudah kecewa bahkan sebelum fajar
matahari tak menunggu mati
sampai senja jumpa, mati tetap mati.
ia tersenyum sendiri di depan layar televisi.
mati.
fatamorgana
sesaat.
harap sesaat.
sesaat.
aku mengumpat sesaat.
sesaat saja.
aku melayang-layang.
cuma sesaat.
ya!
cuma sesaat.
gila...
bagaimana mungkin tiba-tiba aku melihat matahari di malam hari.
bintang berkerlap-kerlip pada terik siang bolong.
sesaat.
sesaat.
hempas nafas terhempas.
sesaat, aku sangat bahagia.
sesaat saja.
ku tahu ini sesaat.
aku.
kecewa.
lebih baik tak sesaat sekalipun.
sakit!
harap sesaat.
sesaat.
aku mengumpat sesaat.
sesaat saja.
aku melayang-layang.
cuma sesaat.
ya!
cuma sesaat.
gila...
bagaimana mungkin tiba-tiba aku melihat matahari di malam hari.
bintang berkerlap-kerlip pada terik siang bolong.
sesaat.
sesaat.
hempas nafas terhempas.
sesaat, aku sangat bahagia.
sesaat saja.
ku tahu ini sesaat.
aku.
kecewa.
lebih baik tak sesaat sekalipun.
sakit!
qurban
allahu akbar allahu akbar allahu akbar
laailaaha illalahu allahu akbar
allahu akbar
walilla hilham...
malam ini takbir kembali bergema.
besok sudah hari raya.
suka cita.
malam terasa anggun.
jiwa-jiwa menghangat.
mereka rela.
takbir itu masuk hatiku.
menangis saja.
aku ikhlas.
hidup itu sesama..
rela.
berkorban.
laailaaha illalahu allahu akbar
allahu akbar
walilla hilham...
malam ini takbir kembali bergema.
besok sudah hari raya.
suka cita.
malam terasa anggun.
jiwa-jiwa menghangat.
mereka rela.
takbir itu masuk hatiku.
menangis saja.
aku ikhlas.
hidup itu sesama..
rela.
berkorban.
Minggu, 14 November 2010
-
menyesal?
tidak.
kenapa?
kecewa.
pada?
diri dan penguasa.
lalu?
melamun lagi.
jadi?
cuma mimpi.
sia-siakah?
tidak.
terus?
gagal saja.
cukup?
jalan terlalu panjang.
masih beharap?
realistis dan optimis.
kemana kau akan pergi?
pada realita di jujung mimpi.
katanya realistis?
arti yang berbeda.
ah kau penghayal!
iya.
kau begitu saja?
ya!
lalu, apa rencanamu?
bermimpi lagi.
kau bodoh!
tidak.
lalu?
hanya optimis.
bohong!kau gila!
tidak. iya.
gila!
sedang.
kau tak tahu malu?!
pemalu saja.
kau sombong padahal kau tak tahu arah!
tidak. aku tahu arah kemana.
bohong!
tidak.
lalu?
Tuhan tahu aku.
.
.
tidak.
kenapa?
kecewa.
pada?
diri dan penguasa.
lalu?
melamun lagi.
jadi?
cuma mimpi.
sia-siakah?
tidak.
terus?
gagal saja.
cukup?
jalan terlalu panjang.
masih beharap?
realistis dan optimis.
kemana kau akan pergi?
pada realita di jujung mimpi.
katanya realistis?
arti yang berbeda.
ah kau penghayal!
iya.
kau begitu saja?
ya!
lalu, apa rencanamu?
bermimpi lagi.
kau bodoh!
tidak.
lalu?
hanya optimis.
bohong!kau gila!
tidak. iya.
gila!
sedang.
kau tak tahu malu?!
pemalu saja.
kau sombong padahal kau tak tahu arah!
tidak. aku tahu arah kemana.
bohong!
tidak.
lalu?
Tuhan tahu aku.
.
.
Langganan:
Postingan (Atom)
tentang cinta, mimpi, harapan, ... ah, cuma cerita !